Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 18 Maret 2011

Jangan Tertipu Mitos tentang Selingkuh!

Anda mungkin tak akan menyangka, ternyata banyak di antara orang-orang di sekitar Anda yang berselingkuh. Menurut laporan mengenai perilaku seksual oleh National Opinion Research Center pada tahun 2006, hampir seperempat dari pria menikah dan 13 persen perempuan menikah memiliki affair. Atau, Anda mungkin masih ingat penelitian yang dilakukan di Indonesia beberapa tahun lalu yang menyatakan bahwa 1 dari 3 pria berselingkuh.
Dalam kenyataannya, selingkuh itu sendiri sering kali tidak seperti yang dibayangkan atau diperkirakan orang. Misalnya begini, Anda terkejut ketika mendapati suami seorang teman berselingkuh, padahal tampaknya pasangan tersebut sangat berbahagia. Banyak hal mengenai selingkuh yang ternyata sekadar mitos. Anda ingin tahu beberapa di antaranya?


Hormon memengaruhi kesetiaan
Perempuan yang memiliki oestradiol (hormon seks, sering dikaitkan juga dengan kesuburan) yang tinggi cenderung akan melakukan perselingkuhan, demikian menurut sebuah studi yang dilakukan para peneliti di The University of Texas di Austin. Perempuan dengan oestradiol yang tinggi akan merasa lebih menarik, dan cenderung ingin menggoda, mencium, dan memiliki affair serius dengan pasangan baru. Kadar oestradiol ini dikaitkan secara negatif dengan kepuasan perempuan dengan pasangannya yang utama. Para peneliti mengatakan bahwa penemuan itu menunjukkan perempuan yang sangat subur tidak mudah dipuaskan oleh pasangan jangka panjangnya, dan terdorong untuk mencari pria yang lebih menarik. Meskipun demikian, mereka cenderung tidak akan memuaskan dorongan negatif ini dan tetap monogamis. 

Selingkuh selalu melibatkan seks
Ternyata tak selalu begitu, ungkap Scott Haltzman MD, profesor klinis di Brown University, dan penulis buku The Secrets of Happy Married Men. Selingkuh juga bisa terjadi pada tingkat emosional, tanpa kontak seksual. "Pertemanan bisa berkembang menjadi perselingkuhan emosional ketika terjadi keintiman emosional, ketegangan seksual, dan dirahasiakan di luar pernikahan," kata Dr Haltzman. Selingkuh secara emosional inilah yang justru paling ditakuti kaum wanita. 

Orang selingkuh karena kehilangan cinta
Menurut Dr Haltzman, affair bisa terjadi karena seseorang merasa tidak lagi mencintai pasangannya. Perlu Anda ketahui. "Mereka mungkin tidak bahagia pada saat itu, tapi tidak berarti cinta sudah tidak ada lagi," katanya. Alasan selingkuh sering kali mengarah pada masalah lain pada hubungan seseorang, misalnya suami yang butuh dorongan ego dari seorang perempuan yang bukan istrinya, atau istri yang mencari perhatian yang tidak didapatnya di rumah.
Pria hanya selingkuh dengan perempuan yang lebih muda dan lebih cantik daripada pasangannya
Lihatlah Pangeran Charles dan Camilla Parker Bowles, atau Ray Sahetapy ketika digugat cerai Dewi Yull karena menjalin hubungan dengan wanita yang lebih tua darinya. Ketidaksetiaan tidak selalu harus dikaitkan dengan sosok yang lebih muda dan lebih cantik. Suatu affair sering kali berangkat dari masalah dalam hubungan seseorang saat itu, demikian menurut Matt Titus, pakar relationship dan penulis buku Why Hasn't He Called?. "Orang selingkuh karena mencari sesuatu yang tidak dimiliki suami atau pasangannya," paparnya. 

Sekali selingkuh, selamanya akan selingkuh
Titus mengatakan, ketika seseorang belajar dari kesalahannya, ia akan melihat akibat dari perbuatannya. Seorang pria yang pernah berselingkuh dan menyebabkannya bercerai, mengatakan telah merasakan konsekuensi dari ketidaksetiaannya, dan menjadi dewasa secara emosional dari pengalamannya tersebut. Ketika akhirnya ia menikah lagi, ia merasa diberi kesempatan kedua. "Aku tak akan pernah lagi selingkuh dari istriku. Jadi, stigma 'sekali selingkuh selamanya akan selingkuh' itu tidak selalu benar," katanya. 

Perkawinan pasti bubar saat terjadi perselingkuhan
"Affair tidak selalu harus menghentikan hubungan dalam perkawinan itu," ujar Dr Haltzman. "Affair itu justru bisa menjadi semacam wake up call." Artinya, jika Anda mampu mengambil hikmahnya, affair yang dilakukan suami bisa Anda tanggapi dengan menyadari bahwa mungkin telah terjadi masalah dalam hubungan Anda. Lalu, jadikan momen ini untuk membuka dialog mengenai masalah tersebut.
Selingkuh satu kali sama saja dengan suatu "affair"
Rhonda Fine PhD, pakar seksologi klinis, tidak sependapat dengan hal ini. "Satu kali perselingkuhan memang bisa merusak kepercayaan dalam hubungan perkawinan Anda, tetapi affair akan menetap jauh lebih emosional daripada kencan semalam," tutur duta The American Academy of Clinical Sexologists ini. Saat melakukan one night stand atauaffair, artinya Anda tidak menghargai pasangan dan janji pernikahan. Namun affair yang berlangsung lama bisa mengarah ke keintiman emosional. 

Perempuan tidak mungkin selingkuh
Hm... kenapa tidak, kata Dr Fine. "Ketika perempuan makin terlibat dalam dunia kerja, dan sering melakukan perjalanan dinas, mereka akan lebih sering menghadapi situasi yang mendorong mereka untuk selingkuh," kata Dr Fine. Menurutnya, hal ini juga disebabkan perempuan lebih mudah melakukan bonding daripada pria. Ketika mereka bekerja bersama pria secara intens, mereka akan merasa menemukan relasi emosional. 

Pria selingkuh karena mereka tidak mendapatkan cukup kasih sayang dari rumah 
Ada banyak alasan mengapa orang berselingkuh. Hal itu tak selalu berhubungan dengan ketertarikan dengan orang lain. Menurut Dr Fine, orang berselingkuh karena mereka egois, tidak dewasa, atau narsisistik. Mereka senang merasakan sensasinya, atau drama yang mungkin tercipta. Mereka mendahulukan kepentingannya dibanding yang lain, dan jarang menyalahkan diri sendiri bila perselingkuhan terjadi. 

Selingkuh terjadi karena krisis paruh baya
Dalam suatu jajak pendapat secara online yang dilakukan Wisconsin Public Radio, lebih dari separuh responden mengatakan, krisis paruh baya adalah pengalaman yang sangat menimbulkan depresi dan merenggut keberanian. Memang beberapa pria memasuki usia paruh baya, dan memiliki affair sesudahnya. Namun, pria yang lain akan memulai kebiasaan minum alkohol terlalu banyak, atau menjadi depresi secara klinis. Kalau sudah begini, ia harus menjalani konseling.

Orang yang selingkuh tak ingin kepergok
Justru sebaliknya, kata Dr Haltzman. "Ada juga orang yang sengaja melakukannya sedemikian rupa sehingga pasangan mereka memergokinya," tukasnya. Entah itu dengan meninggalkan bekas lipstik di kerah kemeja, atau membiarkan e-mail terbuka pada komputer di rumah. Pendek kata, meninggalkan jejak di mana-mana. Sering kali hal itu merupakan suatu sinyal permintaan bantuan. Ada orang yang menunjukkannya dengan sangat jelas karena mereka ingin berhenti tapi tak tahu caranya.

Kalau Sudah Cinta, Semua Masalah Ada Solusinya?

Cinta itu segalanya. Dengan cinta, pasangan bisa mengatasi berbagai gesekan dalam hubungannya. Pandangan yang mungkin terkesan kuno ini bukan sekadar romantisme picisan. Cinta nyatanya memang punya kekuatan, karena cinta adalah bentuk penerimaan, kepedulian, romantisme, ikatan emosi, spiritual, saling berbagi yang hadir dalam sebuah hubungan berpasangan.

Butuh bukti? Saat konseling pranikah, pembahasan mengenai cinta lebih penting dan menjadi prioritas. Selanjutnya seks dan cara pasangan mengatur keuangan menjadi isu berikutnya. Mengapa? Karena pemahaman mengenai penerimaan, rasa peduli, romantisme inilah yang akan menguatkan pasangan suami istri dalam menjalani kehidupan rumah tangga nantinya. Setiap pasutri akan mengalami friksi, dan dengan pemahaman mengenai pentingnya cinta dalam relasi berpasangan akan menguatkan hubungan keduanya.


"Friksi dalam relasi pasangan menikah tetap ada, namun ada dasar yang pasangan pegang, ada sesuatu yang indah dan harus dipertahankan. Dengan memahami arti cinta saat konseling pranikah, saat menikah, pasangan bisa menikmati dan menjalankan pernikahan, dengan berbagai masalah yang datang," jelas dr Heru Oentoeng, SpAnd, dokter spesialis andrologi, saat bincang-bincang di Klinik Angsamerah mengenai "Sex, Love and Human Brain", Jumat (11/2/2011) lalu.

Contoh sederhana lain bisa menyontek film No Strings Attached mengenai hubungan teman tapi mesra (TTM) yang dijalani Adam (diperankan oleh Ashton Kucther) dan Emma (Natalie Portman). Pada akhirnya hubungan mereka berujung pada komitmen karena muncul cinta pada keduanya. Kisah ini memang hanya di film drama komedi, namun bukan berarti tak bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Boleh jadi Anda mengalami sendiri dalam kehidupan nyata.
Pada awalnya, seks menjadi penyatu hubungan perempuan dan laki-laki ini, namun pada akhirnya keduanya membutuhkan afeksi, bukan sekadar hubungan fisik. Keinginan saling menatap, memeluk, dan mengungkapkan perasaan menjadi kebutuhan. Kisah ini menjadi bukti perempuan dan laki-laki bisa menikmati seks tanpa cinta, namun akhirnya menyerah pada kekuatan cinta yang akan bertahan selamanya daripada sekadar kepuasan fisik.

Masih butuh bukti? Perhatikan saja bagaimana pasangan tetap bertahan meski salah satunya sakit bahkan lumpuh. Episode "Atas Nama Cinta" di Kick Andy beberapa waktu lalu menggambarkan bagaimana kekuatan cinta membuat pasangan menikah bertahan. Pernikahan adalah perjanjian untuk hidup bersama, saling menjaga atas nama cinta, termasuk bertahan ketika salah satu pasangan harus menerima kenyataan sakit berkepanjangan.
Pesan inilah yang ingin disampaikan acara bincang-bincang yang mendatangkan pasangan yang bertahan karena cinta. Seperti kekuatan Tari Menayang merawat suaminya, Victor Menayang, yang terserang stroke sejak 2005, dan belum pulih kesadarannya hingga kini. Begitupun dengan Tamy Ferrasta, istri dari presenter Ferrasta Soebardi alias Pepeng. Sejak 2005 Pepeng terserang penyakit multiple schlerosis, sebuah penyakit yang menggerogoti saraf pusat dan melumpuhkan badan. Alhasil enam tahun terakhir Pepeng menghabiskan waktunya di tempat tidur. Kedua perempuan ini, dengan cintanya, mendedikasikan waktu untuk merawat sang suami. Relasi berpasangan yang dibangun dengan fondasi kuat sebelum pasangan sakit menjadi kekuatan dalam menjalani kehidupan yang tidak biasa ini.
Pakar penyembuhan holistik dan praktisi yoga, Martine Cassagrande, menjelaskan pasangan bisa memandu otak menghadirkan cinta dalam hubungannya. Caranya dengan mengusahakan menjadi lebih baik lagi, menerima apa yang ada, dan melakukan perubahan.

"Anda yang mengontrol semuanya, dengan menerima dan melakukan perubahan agar hubungan lebih baik lagi," jelas Martine. Sikap menerima pasangan menurutnya menjadi penting, karena meski menikah, baik suami maupun istri, bagaimanapun adalah individu yang berbeda. 

Membangun perasaan cinta juga membutuhkan strategi, lanjutnya. Kiatnya, pasangan perlu saling mendengarkan, saling mengenali, dan menerima kepribadian masing-masing yang berbeda. Bahkan, hubungan cinta pun dibangun dengan negosiasi termasuk bernegosiasi dengan diri sendiri.
"Maafkan pasangan jika tak melakukan apa yang Anda inginkan. Suami tak harus selalu melakukan cara Anda, begitupun sebaliknya. Katakan kepada diri sendiri bahwa pasangan menyintai Anda meski dia tak melakukan apa yang Anda mau," papar Martine. Memaafkan pasangan, meyakini bahkan mengatakan pada diri sendiri bahwa pasangan menyintai Anda saat si dia tak pernah mengungkapkan cinta, juga menjadi bentuk negosiasi lainnya.

"Jika Anda berhasil menjalani hubungan, dengan saling mendengatkan, Anda akan menikmati hubungan berpasangan yang menenangkan," lanjutnya




5 S untuk Hidup Sehat dan Bugar

Hidup sehat dan bugar hingga usia lanjut. Bagaimana bisa menikmati dan menjalani hidup bila tubuh tidak sehat? Namun, dengan tekanan pekerjaan dan tuntutan hidup membuat kita sulit dan tertantang untuk menjaga pola hidup agar tetap sehat dan seimbang. Dr Samuel Oetoro, MS, SpGK menyarankan pedoman 5 S untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh hingga usia lanjut.
"Saya seringnya mengatakan hidup sehat dan bugar, tak hanya hidup sehat. Hidup sehat dan bugar artinya melakukan pola hidup yang benar-benar menunjang kesehatan hidup Anda. Caranya, dengan memperhatikan 5 S. Makan sehat, berpikir sehat, istirahat sehat, aktivitas sehat, dan lingkungan yang sehat," jelas dr Samuel saat peluncuran kampanye Mulai Hidup Sehat dari Sekarang dari Danone Aqua, Rabu, 16 Maret 2011, di Djakarta Theatre, Jakarta.


Menurut dr Samuel, Indonesia adalah negara berkembang, yang membuat seluruh lapisan masyarakatnya sedang berupaya untuk menjadi lebih baik dalam segala hal. Upaya-upaya tersebut membuat masyarakat sibuk dan lupa untuk berolahraga maupun menjaga pola makan yang sehat. Waktu yang sempit pun mengkontribusikan pola hidup yang kurang sehat.
Meski terlihat simpel atau klise, tetapi 5 S tadi bukan hal yang mudah dilakukan jika tidak ada komitmen dalam diri. Karena itulah Aqua meluncurkan kampanye Mulai Hidup Sehat Dari Sekarang. "Karena hidup sehat dari sekarang itu seperti tabungan yang akan dirasakan di usia lanjut nanti, dan untuk menjalankannya butuh komitmen serta kesiapan dari dalam diri untuk melawan kebiasaan-kebiasaan yang buruk bagi kesehatan," jelas dr Samuel.
Makan sehat itu, menurut dr Samuel dilakukan dengan mengatur waktu makan yang baik, menjaga jumlah makanan yang cukup, mengatur makanan sesuai kebutuhan, menjaga dan mengasup jenis makanan yang sehat, serta memastikan jadwal makanan teratur. Berpikir sehat adalah menjaga pikiran tetap positif karena pikiran negatif atau stres, seperti jamak diketahui, akan berdampak pada kesehatan tubuh. Beristirahat sehat adalah dengan memperhatikan waktu dan kualitas istirahat agar tidak kurang, baik dengan jumlah istirahat yang berkisar antara 6-8 jam semalam, juga kualitas tidur harus terjaga. Aktivitas sehat adalah bagaimana mengatur pola gerak dan aktivitas fisik yang cukup dan menyehatkan. Lingkungan sehat, tentu merupakan upaya menjaga agar lingkungan tetap bersih dan sehat.
"Tidak terlalu sulit untuk memulainya. Pola hidup sehat dan bugar bisa dimulai dengan mengasup air minum yang berkualitas. Karena seringkali kita tidak menyadari tubuh kita sedang mengalami dehidrasi. Pria dan wanita berbeda tingkat dehidrasi ringannya. Dehidrasi bisa memengaruhi tiga hal dalam tubuh; aspek kognisi (daya pikir), aspek fisik, dan suasana hati. Kebiasaan minum sangat umum dilupakan. Padahal, adalah hal yang penting, karena sebagian besar tubuh kita terdiri dari cairan. Termasuk otak yang butuh cairan untuk berproses," jelas dr Samuel.
Namun, dr Samuel mengingatkan, supaya berfungsi tepat dan baik bagi tubuh, pemilihan air minum berkualitas sangat diperlukan. "Unsur air adalah H20, tetapi itu saja belum cukup untuk tubuh. Dalam tubuh ada kandungan lain, yakni mineral yang disebut juga elektrolit. Hal ini harus dijaga supaya otot bisa terus bergerak. Mineral yang diperlukan antara lain, natrium, kalium, khlor, dan lainnya," papar dokter yang sering menjadi nara sumber dalam acara-acara kesehatan itu. 
Dr Samuel mengingatkan bahwa nasihat untuk minum 2 liter air per hari adalah hal yang bagus, namun bukan berarti minum sebanyak itu dalam sekali waktu. "Pastikan Anda minum air yang cukup dalam sehari. Persering minum sebelum merasa haus. Sedikit demi sedikit, jangan dalam jumlah banyak sekaligus. Jadikan kebiasaan. Lakukan hal ini selama 6-8 minggu secara ketat, lama kelamaan akan terjadi otomatis," pungkasnya lagi





Mengapa Pria Jarang Menatap Mata Saat Ngobrol?

Pernah berbincang dengan seseorang yang tak membalas tatapan Anda sepanjang perbincangan? Beragam pikiran bermunculan di pihak kita saat berbicara dengan orang yang tak membalas tatapan mata, seperti, "Apakah dia benar-benar mendengarkan?" atau "Dia niat berbincang sama saya atau tidak, ya?"
Dr Audrey Nelson, pelatih dan pembicara mengenai komunikasi mengatakan, kontak mata adalah salah satu bentuk komunikasi nonverbal terkuat dalam komunikasi manusia. Namun, ternyata ada perbedaan mengenai kebiasaan menatap mata lawan bicara antara pria dan wanita, berikut arti dari tatapan itu.

Menurut studi yang dilangsungkan oleh Stephen Janik dan Rodney Wellens dari University of Miami, Florida, saat berbincang 43,4 persen perhatian kita fokuskan pada mata, dan sekitar 12,6 persen perhatian kita berada pada mulut lawan bicara. Sehingga secara kasar, 56 persen perhatian kita berada pada mata dan mulut lawan bicara.


Tentunya, bukan berarti saat bicara kita boleh menatap lamat-lamat mata lawan bicara, karena itu juga bukan hal yang sopan. Umumnya, saat perbincangan, tatapan mata terjadi sekitar 60 persen waktu perbincangan. Dalam perbincangan yang berlangsung sekitar 30 detik, para peneliti mendapati seseorang bisa menatap kurang lebih 15 titik di sekitar wajah lawan bicaranya, seperti pojok bingkai kacamata, bibir yang bergerak, rambut di sekitar telinga, dan lainnya.

Menaruh perhatian terhadap mata lawan bicara tidak terjadi tanpa alasan. Ada pengertian di dalam diri kita, bahwa bagian organ tersebutlah yang paling menyiratkan emosi. Tetapi, mengapa saat bicara dengan si dia, ia memalingkan wajah dan matanya? Meski ia menjawab pertanyaan, tetapi saat ia tak membalas tatapan saat kita bicara, ada rasa diabaikan. Namun, jangan langsung membuat kesimpulan, karena menurut Nelson, ada alasan mengapa banyak pria yang melakukan hal itu. 

Nelson mengungkap bahwa kebiasaan pria dan wanita untuk menatap saat berbincang berbeda. Bagi wanita, kontak mata berlaku sebagai pengumpulan informasi, juga untuk membangun ikatan dan keintiman. Saat menatap pasangannya berbicara, perempuan mencari reaksi dari pesan yang ia sampaikan, sekaligus membangun keterikatan. Sementara bagi pria, membalas tatapan adalah sebuah tanda tantangan dan kompetisi. Perbedaan pemahaman mengenai cara pandang itu kadang bisa menimbulkan masalah dalam komunikasi. 

Menurut Nelson, dalam pikiran perempuan, seringkali ada asumsi bahwa jika pria tidak mempertahankan kontak mata saat bicara dengannya, berarti ia tidak mendengarkan. Nelson mengatakan, ini tidak selalu benar. Kadang pria mendengarkan tanpa perlu menatap mata lawan bicaranya. Namun, saat melakukannya, pria akan kehilangan banyak sinyal-sinyal nonverbal lainnya. Sementara wanita tak hanya mengumpulkan informasi melalui telinga, tetapi juga "membaca" bahasa tubuh atau bahasa nonverbal.

Lewat hal ini, diketahui ada perbedaan cara pandang. Jika Anda dan dia ingin sama-sama nyaman saat berkomunikasi, lakukan kompromi. Anda bisa mengungkapkan keinginan untuk berganti tatapan dengannya, dan dia juga harus dengan sukarela menatap Anda saat berbincang. Yang pasti, harus ada komunikasi yang lancar saat menjalin hubungan.


Masih Sayang, tapi Sudah Nggak Cinta

Banyak pasangan kekasih maupun yang telah menikah merasakan hubungan yang mulai datar-datar saja. Hal ini biasanya dialami ketika hubungan telah berjalan sekian tahun, bahkan tanpa banyak mengalami persoalan. Lalu Anda mulai shock ketika dalam suatu dialog, si dia mengungkapkan, "I love you, but I'm not in love with you anymore."
Apa makna dari ungkapan ini? Meskipun diawali dengan kata "I love you", tetapi mengapa rasanya kita tetap kehilangan? Walaupun Anda menyadari antara Anda dan dia sudah tak ada getaran-getaran lagi, tapi kok rasanya sayang jika mengakhiri hubungan ini?
Laki-laki atau perempuan mungkin akan menanggapi ungkapan itu dengan berbeda. Bagi laki-laki, maknanya sederhana: hubungan harus diakhiri karena ia sudah nggak jatuh cinta lagi pada Anda. Bahwa ia tak lagi menatap Anda dengan cara yang sama seperti dulu ketika baru mulai berdekatan. Di sisi lain, perempuan akan memandang pernyataan tersebut sebagai ultimatum. Bisakah membangkitkan lagi rasa berdebar seperti ketika mereka masih dalam tahap "in love" itu? Bagaimanapun juga, Anda masih sayang padanya, dan ia pun begitu. Tak adakah cara untuk membuat agar hubungan ini tak harus berakhir?


Maggie Arana dan Julienne Davis dalam bukunya, Stop Calling Him Honey and Have Sex, menuliskan suatu konsep bahwa ketika pasangan merasakan kedekatan dan menerimanya sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya terjadi, hal itu akan membunuh nafsu dan gairah. Melakukan kebiasaan-kebiasaan kecil bersama, memanggil pasangan dengan nama sayang, atau mengenal seseorang terlalu baik, ternyata juga bisa menyebabkan hasrat itu menguap. 
Hasrat bisa menghilang ketika pasangan sudah merasa lebih sebagai sahabat, atau kakak dan adik. Kebersamaan Anda sudah didefinisikan sebagai pertemanan, dan bukannya gairah. Dengan berjalannya waktu, Anda berdua pun mengeluhkan masalah yang itu-itu saja. Misalnya, Anda merasa suami seharusnya sudah bisa membaca pikiran Anda ketika Anda mencuci piring dengan suara gaduh. Ternyata, ia cuek saja sambil terus asyik menonton televisi. Ia sih tak menolak jika Anda memintanya membantu. Hanya saja Anda bosan jika setiap kali harus meminta, mengingatkan. Maunya, ia sudah mengerti apa yang Anda kehendaki tanpa Anda minta.
Ketika sedang menyusun bukunya, I Love You But I’m Not in Love with You: Seven Steps to Saving your Relationship, Andrew G. Marshall mengadakan suatu riset. Ia menanyai sejumlah pasangan mengenai problem yang mereka hadapi sehingga harus mengikuti konseling pernikahan. Hasilnya, 47 persen mengatakan sudah tak ada gairah, dan 43 persen mengungkapkan, mencintai pasangan namun tidak lagi jatuh cinta.
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai problem yang paling membuat mereka sedih, 26 persen mengatakan "kesulitan memahami sudut pandang pasangan", 25 persen mengatakan "terlalu sering bertengkar", dan 24 persen kembali mengatakan "mencintai pasangan, tapi tidak lagi jatuh cinta".
Riset ini mendukung observasi Marshall di klinik terapi pernikahannya. Pasangan yang memilih problem "mencintai pasangan, tapi" ternyata juga cenderung memilih "terlalu sering bertengkar" dan yang lebih netral seperti "kesulitan memahami sudut pandang pasangan". Ketika seseorang tak bisa mengungkapkan perasaannya, meskipun menyangkut hal-hal kecil, hubungan bisa memudar. Lama-kelamaan, seluruh emosi jadi tumpul.
Bagi pasangan seperti ini, dilema yang akan dihadapi sangat menyakitkan. Orang yang mulai kehilangan percikan-percikan cinta itu masih sangat menyayangi pasangannya, dan jelas tak mau menyakiti hatinya. Bagi mereka mengakhiri hubungan adalah jalan keluar yang terbaik.

Namun, tidak lagi merasakan getaran cinta tidak selalu berarti Anda harus mengakhiri hubungan. Hal itu bisa menandakan bahwa sudah waktunya bagi Anda melakukan perubahan. Justru, jadikan tanda-tanda ini sebagai kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru dan memperkuat hubungan Anda. Hubungan yang paling memuaskan adalah ketika kedua pihak ingin terus berkembang dan tumbuh bersama. Mungkin Anda harus sedikit bekerja keras, tapi hasilnya tak ternilai, lho.